Pembunuh Berantai Memiliki Pikiran Kedua: Pengakuan Thomas Quick

Pembunuh Berantai Memiliki Pikiran Kedua: Pengakuan Thomas Quick post thumbnail image

Di sebuah rumah sakit jiwa terpencil di Swedia, ada seorang pria bernama Thomas Quick yang udah dihukum sebab kejahatan yang tak terkatakan. Selama lebih dari satu kali persidangan, dia bakal menceritakan kisah-kisah brutalnya—tentang penikaman, pencekikan, pemerkosaan, inses, kanibalisme—kepada nyaris seluruh orang yang senang mendengarkan. Kemudian, setelah hukuman pembunuhan kedelapan dan terakhirnya, dia terdiam sepanjang nyaris satu dekade. Namun, di dalam lebih dari satu th. terakhir, dia udah mengayalkan seluruh yang udah dia katakan dan lakukan, dan sekarang dia membawa sesuatu yang baru untuk diakui: Dia mengabaikan bagian terburuk dari semuanya.

Bagian 1: Di di dalam tempat tinggal sakit jiwa

Sture Bergwall bangun jam 5:30 pagi ini, layaknya yang dia melakukan tiap tiap pagi, dan terhadap jam 6 pagi dia terjadi sepanjang satu jam di halaman di dalam unit psikiatri yang safe di tempat tinggal sakit Säter, rumahnya sepanjang dua puluh tiga tahun terakhir. Dia bahagia melakukan ini tiap tiap hari, mondar-mandir di dalam angka delapan berulang kali. Kadang-kadang dia mendengarkan musik, tetapi lebih sering mendengarkan berita pagi, menguping dunia yang terpisah darinya lebih dari dua dekade lalu.

Swedia adalah keliru satu negara di mana jadi terpidana pembunuh di unit psikiatri yang safe tidak tetap jadi rintangan untuk mempunyai akun Twitter, dan Bergwall sering men-tweet tentang kegiatan pagi yang tak ada habisnya ini. “Refleksi halaman Ercise,” dia berikan judul terhadap mereka. Puisi-puisi kecil yang menyedihkan tentang apa yang sanggup Anda lihat disaat ini adalah hanya satu akses fisik Anda ke dunia luar: tumbuhnya dahan, bagaimana salju fresh berada di atas dinding halaman, cahaya di bawah langit yang dia sadar adalah dari lampu kota yang terbangun ke timur. Pada hari yang baik, dia lihat burung bulbul.

Sture Bergwall lebih dikenal oleh sebagian besar penduduk Swedia bersama dengan nama Thomas Quick, nama yang diambilnya tidak lama sehabis ia tiba di institusi ini terhadap tahun 1991. Quick adalah nama keluarga ibunya. Thomas, begitu ia menjelaskan, adalah nama korban pertamanya, seorang anak laki-laki berusia 14 tahun yang mayatnya ditemukan di gudang sepeda, ikat pinggangnya terlepas, kancing celananya robek, dan wajahnya berdarah. Bergwall tidak dulu dituntut atas pembunuhan itu, gara-gara dia berusia 14 tahun disaat pembunuhan itu terjadi, dan terhadap selagi dia mengakuinya, undang-undang pembatasan sudah berakhir. Namun dia lantas divonis bersalah di dalam enam persidangan terpisah atas delapan pembunuhan lainnya, dan kuantitas total pembunuhan yang dia akui sebagai tanggung jawabnya adalah lebih kurang tiga puluh. Begitulah cara dia jadi pembunuh berantai paling terkenal di Swedia. “Jawaban Swedia,” layaknya yang lantas dia katakan sendiri, “untuk Hannibal Lecter.”

Untuk selagi waktu, peran tersebut sepertinya dia sukai, tetapi lantas terhadap tahun 2001, sehabis hukuman pembunuhannya yang kedelapan, Bergwall menginformasikan bahwa dia tidak bakal lagi bekerja serupa bersama dengan jaksa dan dia tidak bakal lagi berkata bersama dengan media. Dia meraih lagi nama Sture Bergwall dan terdiam. Ketika reputasinya berubah-ubah, orang yang jadi pusatnya tetap melindungi nasihatnya. Namun baru-baru ini dia menentukan untuk merasa berkata lagi, dan dia setuju untuk bersua bersama dengan saya. Saya berkunjung ke sini untuk coba dan sadar kisahnya—sebuah kisah mengerikan tentang apa yang sanggup dikerjakan manusia, dan tentang tanggung jawab dan rasa bersalah, serta tentang penipuan dan pembalasan, sebuah kisah yang sanggup jadi pelajaran bagi kita semua.

Untuk capai ruang pengunjung unit psikiatri yang aman, di mana Bergwall dan saya bakal berbicara, inilah yang perlu Anda lakukan: terjadi melalui pintu keamanan, masukkan paspor Anda ke di dalam nampan yang disimpan oleh seorang pria di bilik yang aman, pergi melalui pintu logam berat yang diakses dari jarak jauh, terjadi melalui detektor logam, lewat pintu logam berat lain yang diakses dari jarak jauh, duduk di ruang menanti di mana meja kopi dipenuhi majalah wanita Swedia, https://perdim11dumai.info/ lalu lewat dua pintu lagi yang terkunci, masing-masing diakses bersama dengan keypad. Dan di sana, di akhir acara ini, Sture Bergwall, menunggu, tersenyum sedikit ragu, seorang pria berusia 63 tahun bersama dengan janggut pendek berwarna abu-abu, nyaris tidak ada sehelai rambut pun di kepalanya, dan berkacamata tebal.

Di sini, lima pintu dari dunia bebas, sukar untuk tidak merasa sedikit khawatir. Ada selagi yang aneh sehabis saya pertama kali tiba disaat penerjemah sudah pergi ke kamar mandi dan dua orang dari tempat tinggal sakit yang bakal duduk di dekat pintu selagi kita berkata belum berada di tempat, jadi cuma saya dan Bergwall yang bersua untuk pertama kalinya. pertama kalinya, saling berbasa-basi kaku. Dia duduk di keliru satu sisi meja kopi yang rendah—posisi yang lantas saya ketahui dipilih, gara-gara dia tidak bahagia lihat staf yang mengawasinya. Aku bergerak menuju sofa di sisi lain meja kopi. Tapi lantas dia menolakku. Dia bersama dengan lembut mengetuk kursi tepat di sebelahnya. Oke.

Jadi disitulah saya bakal duduk sepanjang tiga jam berikutnya, lutut kananku berjarak sebagian inci dari kirinya. Pengacara Bergwall, Thomas Olsson, nanti bakal menceritakan kepada saya tentang kunjungan pertamanya ke sini: Dia dan calon kliennya diantar ke dapur, dan pintunya dikunci di belakang mereka. “Pertemuan pertama Anda bersama dengan seorang kanibal di dapur,” kata Olsson, “itu adalah suatu hal yang perlu diingat.”

Hari ini saya membawakan kue-kue, dan Bergwall nampaknya bahagia bersama dengan hal ini.

“Ooooh,” katanya, lalu tersenyum. Dan lantas dia merasa berbicara.

Bagian 2: Delapan pembunuhan

Untuk sadar siapa pria ini—pria yang dulu jadi Thomas Quick dan sekarang jadi Sture Bergwall—satu hal yang tidak sanggup dihindari untuk memulai adalah bersama dengan lihat bersama dengan tepat apa yang dihukum oleh orang yang duduk berhadapan bersama dengan saya sekarang. Kisah-kisah tersebut ini disita dari transkrip interogasi polisi bersama dengan Quick, dan dari kesaksian persidangan serta putusan tertulis, dan dari tulisannya sendiri di tahun-tahun Thomas Quick yang penuh kecerobohan, dan dari wawancara tempat yang dia memberikan untuk menyatakan dirinya sendiri sebelum saat jaman diamnya. Banyak detailnya yang amat sukar untuk ditanggung.

Pembunuhan pertama yang diadili, terhadap tahun 1994, terjadi terhadap seorang anak laki-laki berusia 15 tahun bernama Charles Zelmanovits. Quick menyatakan bagaimana dia dan seorang temannya, selagi mencari anak laki-laki yang sesuai terhadap bulan November 1976, lihat Zelmanovits terjadi di sepanjang jalur terhadap suatu malam, kelihatan tertekan. (Teman-temannya bakal menyatakan bahwa dia jadi kesal sehabis terjadi suatu hal yang aneh bersama dengan seorang gadis di pesta dansa sekolah.) Quick menepi untuk menawarkan simpati dan tumpangan pulang. Dia meminta untuk merasakan tangan Zelmanovits, maka Zelmanovits membebaskan sarung tangannya, dan lantas Quick menyatakan dia membujuk anak laki-laki itu bahwa mereka perlu saling melakukan masturbasi. Mereka berhenti di daerah penebangan kayu—teman pengemudi Quick idamkan turut bergabung—tetapi lantas Quick jadi lumayan marah terhadap suatu hal yang dikatakan Zelmanovits sehingga dia mengalungkan leher anak laki-laki itu sampai dia mati. Setelah Quick memainkan permainan seksual lebih lanjut bersama dengan mayat tersebut, mereka membawanya ke hutan. Quick mempunyai pisau dan gergaji. “Dia dikendalikan oleh seksualitas di mana bagian tubuh tertentu mempunyai nilai simbolis tertentu,” sadar putusan pengadilan, “dan dia sadar bagian tubuh mana yang dia inginkan.” Quick bakal menggambarkan bagaimana tubuh itu mengerang selagi dia memotongnya, dan bau manis yang dikeluarkan. Dia menyatakan bagaimana dia membawa satu kaki dan setidaknya satu tangan ke di dalam kantong plastik abu-abu dan menutupi seluruh tubuhnya bersama dengan lumut. Tak lama kemudian, kaki tangannya mengunjungi Quick dan menyatakan bahwa dia mempunyai pikiran untuk bunuh diri. “Lakukan,” kata Quick padanya, anjuran yang diikuti kaki tangannya.

Hukuman ke dua dan ketiga bertujuan kepada sepasang suami istri, turis Belanda Marinus dan Janny Stegehuis, yang dibunuh di perkemahan terpencil di tepi danau terhadap tahun 1984. Quick menyatakan bagaimana dia menikam sang suami melalui kanvas tenda, lalu masuk ke dalam. Penjelasan lengkapnya terjadi sepanjang sebagian waktu, dan kesaksian forensik di persidangan menunjukkan bahwa luka yang diamati—dua puluh lima terhadap laki-laki, dua puluh terhadap perempuan—mendukung kesaksian Quick sampai tingkat yang luar biasa atas serangan yang begitu heboh tersebut.

Pembunuhan keempat, terhadap tahun 1988, terjadi terhadap seorang pelajar Israel berusia 24 tahun, Yenon Levi, yang tengah mengunjungi keluarga dan jalan-jalan. Quick menceritakan bagaimana dia dan seorang komplotannya menculik Levi di stasiun kereta api dan membawanya ke tempat tinggal liburan yang digunakan oleh keluarga komplotannya. Sesampai di sana, Levi coba melarikan diri ke halaman, tetapi Quick segera menangkap lagi dan membunuhnya.

Pembunuhan kelima terjadi terhadap gadis Norwegia berusia 9 tahun, Therese Johannesen, terhadap tahun 1988. Quick menyatakan bagaimana dia melihatnya di dekat rumahnya, di mana dia baru saja membeli Coke dan coklat sambil menanti hujan reda, dan menariknya ke bawah lereng, di mana dia lantas membenturkan kepalanya ke batu sampai dia tidak sadarkan diri. Kata-kata terakhirnya, lapornya, adalah “Bu, Bu.” Dia lantas teringat betapa kecewanya dia, membawa jenazahnya ke di dalam mobil, gara-gara dia bukan laki-laki. Setelah memotong-motongnya, suatu hal yang dia ceritakan bersama dengan amat rinci, dia lantas menyembunyikan bagian tubuh yang berbeda di daerah berbeda di lebih kurang lanskap; dia lagi ke daerah mereka dimakamkan terhadap tahun berikutnya dan membakar sisa-sisanya. Di keliru satu wilayah yang dia identifikasi, para penyelidik menemukan pecahan tulang dan mengirimkannya untuk dianalisis. Hanya sepotong kecil, amat terdegradasi untuk pemikiran DNA, tetapi seorang pakar memastikan di pengadilan bahwa itu bukan cuma tulang manusia dari seorang anak berusia 5 sampai 15 tahun tetapi terhitung menunjukkan gejala sudah dipotong bersama dengan alat tajam.

Related Post