Review Film: Siksa Kubur

Review Film: Siksa Kubur post thumbnail image

Sebelum aku panjang lebar mengulas Siksa Kubur, pertama-tama aku menghendaki mengatakan bahwa film Joko Anwar ini mengerti bukan untuk mereka bernyali “rapuh” atau lihat horor cuma membuat “have fun”. Selain itu, di sini kami juga akan sedikit membahas tentang permainan judi online di situs nolimit city demo dan slot demo spadegaming

Joko Anwar mewujudkan imaji personal dan liarnya yang pernah tertuang dalam film pendek Siksa Kubur (2012) ke film berdurasi hampir dua jam. Bahkan aku berani bilang Jokan bukan cuma menampilkan imajinya soal konsep siksa kubur dalam agama Islam, tetapi terhitung memang menghendaki ‘menyiksa’ psikis penonton.

‘Siksaan’ dari Jokan bahkan sudah jadi dari awal film ini dimulai. Gaya psychological horror yang digunakan Joko Anwar sudah di mulai di babak cerita yang selayaknya berisi rona kebahagiaan dan kenangan indah.

Joko bersama dengan sengaja gunakan pengadeganan yang kikuk, ganjil, dan agak jadi mengganggu yang memang punya tujuan mencolek-colek kenyamanan penonton. Jokan pun berkesinambungan bersama dengan hal itu setidaknya hingga 2/3 film berjalan.

Bukan cuma itu, Joko ikut gunakan dramaturgi dan menyisipkan style teatrikal dalam beri tambahan latar belakang cerita kepada penonton. Ditambah bersama dengan dialog yang menguji nalar, jujur saja tontonan ini tak akan mampu dibandingkan bersama dengan horor laris di luar sana, terhitung saga Pengabdi Setan yang Jokan buat.

Pada segi dialog inilah aku jadi sisi personal dan kesimpulan Joko Anwar tertuang bersama dengan gamblang. Pengujian nalar akan konsep-konsep pemahaman keagamaan yang kompleks, bagi saya, membuat film horor (sedikit) religi ini jadi miliki bobot tersendiri.

Pada waktu itu pula, aku mengerti mengapa tidak tersedia aktor lain yang mampu membintangi Siksa Kubur selain mereka sekaliber Slamet Rahardjo, Reza Rahadian, Christine Hakim, dan Arswendy Bening Swara.

Bagi saya, Slamet Rahardjo dan Reza Rahadian adalah bintang utama dalam film ini.

Kemampuan mereka dalam bermain akting teatrikal tereksplorasi sempurna dalam film ini. Melihat keduanya saling bergulat dalam satu frame, aku berterima kasih kepada Joko Anwar untuk moment tersebut.

Baca juga:

Review: Green Street Hooligans

Film Drama Jerman Terbaik, Ada yang Berlatar Cerita Era Nazi

Meski begitu, Joko Anwar memang keluar tidak menggantungkan beban Siksa Kubur pada pemain.

Penulisan naskah yang kompleks nan menjelimet bagai puzzle, dan menantang nalar penonton bahkan hingga keluar bioskop adalah bahan utamanya. Naskah realis nan rumit khas Joko Anwar itulah yang memang jadi tantangan sekaligus kesempatan besar para aktor dan aktris dalam berakting di depan kamera.

Saya mengapresiasi cara Joko Anwar membawa konsep kehidupan sehabis mati menurut agama Islam dalam Siksa Kubur. Joko tidak sembrono mengkombinasikan konsep selanjutnya bersama dengan imajinasi ala sineas dalam membuat film.

Joko pilih untuk memodifikasi dan menampilkan konsep-konsep pengajaran agama selanjutnya secara metaforis, agar senantiasa mempertahankan segi dramatisasi tanpa wajib jatuh pada eksploitasi secara ugal-ugalan.

Tentu saja, penulisan cerita Siksa Kubur ini jauh lebih logis dibanding film yang mengusung siksa sehabis mati sebagian waktu lantas yang tak jelas dan aku anggap cuma eksploitasi kisah religi semata.

Joko Anwar terhitung tak main-main dalam menampilkan imajinasi siksa kubur atau teror makhluk gaib sepanjang film ini. Joko tampak mencoba mengeksplorasi style teror baru dalam Siksa Kubur.

Gaya teror dan rupa makhluk gaib selanjutnya memang lebih jadi Western dibanding sebelum-sebelumnya, bila waktu Pangabdi Setan. Namun aku rasa itu jadi usaha Joko untuk mampu membawa Siksa Kubur ke pasar internasional dan sejauh ini masih ‘aman’.

Apalagi, Joko bukan cuma terlibat dalam penulisan dan penyutradaraan dalam Siksa Kubur. Ia sendirian duduk sebagai penyunting film ini, yang membuat Siksa Kubur jadi jadi personal dan tiap tiap potongan adegannya jadi miliki target tersendiri.

Usai dari segi visual yang memang “Joko Anwar dan Ical Tanjung banget”, hal lain yang aku apresiasi dari Siksa Kubur adalah scoring dan musik yang jadi penyiksaan untuk penonton sehabis segi cerita dan visual.

Aghi Narottama dan tim sungguh mengeksplorasi suara-suara yang mengganggu tanpa wajib gunakan pitch tinggi yang memekakkan telinga. Hanya bersama dengan bass dan drum nada rendah repetitif yang bertempo cepat, scoring Siksa Kubur mampu membuat kursi bioskop jadi tak nyaman.

Saya terhitung mengapresiasi tim riasan, prostetik, efek, desain produksi, dan juga art department yang mengerti bekerja keras dalam film ini. Terutama, adegan kuku yang mampu membuat separuh penonton bioskop memekik.

Di luar dari segala sajian mantap Joko Anwar dalam Siksa Kubur ini, aku cuma berharap masyarakat mampu memandang film ini bersama dengan pandangan yang terbuka dan tanpa berekspektasi apa pun. Apalagi sekadar mengisi waktu luang dan berharap mendapatkan hal yang serupa seperti pada Pengabdi Setan.

Yang jelas, Siksa Kubur tunjukkan kekuatan imajinasi dan kapasitas Joko Anwar yang –sekali lagi– memang di atas rata-rata sutradara dan penulis naskah film di Indonesia.

Related Post