Riview Film Barbie Kocak, Menghibur, dan Bukan untuk Buah-Buah

Diantisipasi sebagai salah satu film terbaik tahun ini, Barbie punya hype yang luar lazim menjelang perilisannya. Film ini menjanjikan tontonan ringan dengan tone kekanak-kanakan tetapi punya jajaran cast yang tidak dapat diremehkan. Percaya hype atau tidak, film ini konsisten pantas dicoba.

Barbie merupakan film live-action pertama boneka legendaris tersebut. Disutradarai Greta Gerwig, Barbie berkisah perihal kehidupan boneka itu di Barbieland. Tempat itu dibatasi para cewek yang semuanya bernama Barbie dan punya segala macam pekerjaan seperti di dunia nyata. Sementara, para cowoknya, Ken, tidak punya pekerjaan yang jelas.

Dinamika kehidupan di Barbieland merupakan suguhan tontonan yang bakal mengingatkan orang, terpenting para wanita, pada masa kecilnya. Bermain boneka, membuat rumah-rumahan, menghasilkan sebuah kehidupan tersendiri pantas daya pikir, ya, seperti itulah gambaran permulaan film ini. Warna-warna pastel yang memenuhi tempat itu menghasilkan nuansa meriah yang membuat nyaman.

Tetapi, Barbie tentu saja bukan cuma sekadar kehidupan di dunia daya pikir. Barbie terpaksa pergi ke dunia nyata sesudah merasa bila dirinya rusak. Kepergiannya itu untuk mencoba membetuli dirinya. Tetapi, dia kemudian menemukan bila kehidupan di dunia nyata tidak seindah kehidupan di Barbieland. Barbie malahan pulang.

Tetapi, ketika kembali ke Barbieland, kondisi berubah. Para Ken melaksanakan revolusi dan berkuasa. Para Barbie yang dulunya berkuasa malahan alhasil menjadi pelayan mereka. Barbie malahan berusaha mengembalikan kondisi dengan bantuan para Barbie—dan Alan—yang belum tercuci otaknya.

Cerita yang diangkat Barbie ini sebenarnya sungguh-sungguh sederhana dan penuh nuansa si kecil-si kecil. Tetapi, di sisi lain, ada makna mendalam. Barbie tidak pernah siap dengan perubahan. Walaupun sungguh-sungguh menjunjung tinggi feminisme, tetapi, mereka melalaikan eksistensi Ken. Dikala salah satu Ken mencicipi dunia nyata, matanya malahan terbuka.

Greta dengan cerdas mengangkat sisi ini. Dia menunjukkan slot depo 10k sisi buruk feminisme berlebihan dengan menabrakkan metode patriarki toksik di dalamnya. Via film ini, Greta seolah mau mengatakan bila keseimbangan senantiasa diperlukan dalam hidup. Sesuatu yang berlebihan dapat menyebabkan keburukan.

Sementara, film ini juga menyatakan bagaimana seorang pria itu dapat melaksanakan apa malahan ketika sedang patah hati. Ken utama film ini yang diperankan Ryan Gosling berpegang teguh pada keyakinan takdir bahwa dia dan Barbie utama yang diperankan Margot Robbie mesti bersama. Tetapi, perasaan cintanya tidak disambut Barbie. Ken malahan patah hati.

Related Post